Bandung Barat | InfoNesia.me // Semangat kolaborasi dan penguatan kualitas kuliner nasional tercermin dalam pertemuan ratusan chef dari berbagai daerah di Indonesia.
Sebanyak 250 chef yang tergabung dalam komunitas SPPG Pangauban berkumpul di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, pada Jumat (27/3/2026), dalam sebuah agenda yang tidak sekadar silaturahmi, tetapi juga menjadi panggung penyatuan visi menuju peningkatan kualitas pangan nasional.
Kegiatan ini diprakarsai oleh Hendrik, owner SPPG Pangauban, yang menyampaikan bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk mendukung dan menyuarakan program Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan cita-cita besar Indonesia Emas.

Fokus utama yang diangkat adalah bagaimana menghadirkan menu makanan dengan harga terjangkau Rp10.000 hingga Rp8.000 namun tetap berkualitas, bergizi, dan layak konsumsi.
Dalam keterangannya, Hendrik menegaskan bahwa kualitas tidak selalu harus mahal. Dengan sentuhan tangan-tangan profesional, termasuk chef berpengalaman dari dalam dan luar negeri, menu sederhana dapat diolah menjadi sajian yang bernilai tinggi.
Ia menyebutkan bahwa para chef yang hadir, termasuk yang berlatar belakang perhotelan dan industri kuliner profesional, telah membuktikan bahwa standar tersebut dapat dicapai.

“Alhamdulillah, banyak yang sudah merasakan langsung menu Rp10 ribu hingga Rp8 ribu ini. Ternyata bisa dibuat berkualitas jika ditangani oleh tenaga profesional,” ujarnya.
Namun di balik semangat tersebut, Hendrik juga menyinggung dinamika yang tengah dihadapinya. Ia mengakui bahwa dirinya saat ini tengah menjadi sorotan publik, terutama terkait viralnya aksi joget yang disebut-sebut sebagai “joget 6 juta”.
Menanggapi hal itu, ia memilih menyerahkan penilaian kepada publik, sekaligus menyampaikan permohonan maaf apabila aksinya menimbulkan kesalahpahaman.
“Saya tidak ada niat melecehkan siapa pun. Saya hanya ingin program ini terus berjalan dan berkembang. Netizen adalah garda terdepan dalam menilai,” tuturnya.

Lebih jauh, Hendrik juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap maraknya penyedia makanan berbiaya murah yang tidak memenuhi standar kualitas.
Menurutnya, kehadiran para chef profesional dalam kegiatan ini menjadi jawaban atas tantangan tersebut bahwa makanan murah tetap bisa sehat dan layak jika dikelola dengan baik.
Dengan pengalaman lebih dari 19 tahun di dunia kuliner, Hendrik menegaskan komitmennya bersama para chef lain untuk terus mendorong inovasi di sektor makanan rakyat.
Ia juga menyampaikan bahwa keberlangsungan program ini tidak hanya menyangkut kualitas pangan, tetapi juga nasib para pekerja dan karyawan yang terlibat di dalamnya, terlebih menjelang momentum Lebaran.
Pertemuan 250 chef ini pun menjadi simbol bahwa dapur bukan sekadar ruang memasak, melainkan juga ruang perjuangan untuk kualitas hidup masyarakat yang lebih baik, serta kontribusi nyata menuju Indonesia yang lebih maju.
Jurnalis. : An/Red
Editor. : InfoNesia.me

Tinggalkan Balasan