Bandung Barat | InfoNesia.me // Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menjadi pusat perhatian dunia internasional setelah ditetapkan sebagai lokasi Kunjungan Lapangan (Site Visit) dalam kegiatan Global Knowledge Sharing Workshop on Community-Driven Approaches for Resilience atau Lokakarya Global Pengetahuan: Memperkuat Resiliensi melalui Pendekatan Berbasis Komunitas, Rabu (21/4/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Desa Nasional, yang dihadiri oleh pejabat pemerintah dan pembuat kebijakan dari 15 negara mitra di tingkat regional dan global.

Desa Kertawangi dipilih karena dinilai berhasil menerapkan praktik pembangunan desa yang berfokus pada ketahanan iklim, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.

Adapun negara-negara yang terlibat dalam kunjungan ini antara lain Kamboja, Peru, Madagaskar, dan Guinea, bersama delegasi dari berbagai negara lainnya di Asia, Afrika, hingga Pasifik.

Para peserta hadir untuk melihat langsung dan mempelajari praktik baik (best practices) yang telah dijalankan masyarakat Desa Kertawangi.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bandung Barat, Dudi Supriadi, S.Sos, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi momentum penting bagi desa-desa di Indonesia, khususnya di Bandung Barat, untuk menunjukkan peran strategis desa dalam menghadapi tantangan global.

“Alhamdulillah, pagi tadi sekitar pukul 10.00 WIB, kami menerima kunjungan tamu dari luar negeri dalam rangka site visit kegiatan Global Knowledge Sharing Workshop. Intinya adalah berbagi pengalaman tentang bagaimana masyarakat, khususnya Desa Kertawangi, membangun desa yang berketahanan iklim, peduli lingkungan, bebas sampah, dan tangguh terhadap bencana,” ujar Dudi.

Menurutnya, para delegasi internasional ingin mengetahui secara langsung langkah-langkah konkret yang ditempuh pemerintah desa dan masyarakat Kertawangi dalam menjaga lingkungan dan membangun ketahanan desa secara berkelanjutan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan dan pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat yang diwakili DPMD, Camat Cisarua, unsur Forkopimcam, Kapolsek, Danramil, hingga Kepala Desa Kertawangi beserta jajaran BPD, TP-PKK, Ketua DPK Apdesi Kecamatan Cisarua, serta masyarakat yang selama ini aktif dalam program ketahanan iklim dan pengelolaan sampah.

Lanjut Dudi, sejumlah program unggulan, salah satunya gerakan penanaman pohon yang hingga kini telah mencapai sekitar 50 hingga 60 ribu batang pohon di wilayah desa.

Program tersebut dinilai memiliki dampak besar dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mempertahankan sumber daya air, yang manfaatnya dirasakan tidak hanya oleh masyarakat Kertawangi, tetapi juga wilayah Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, hingga Kota Bandung.

Tak hanya itu, para peserta juga diperlihatkan secara langsung tata kelola sampah berbasis masyarakat, tingkat kepedulian warga terhadap lingkungan, serta kondisi nyata Desa Kertawangi sebagai desa yang konsisten menjaga keseimbangan alam.

Dialog interaktif pun berlangsung antara peserta internasional dengan pemerintah desa dan masyarakat. Para delegasi aktif menggali informasi terkait strategi kepemimpinan desa, pemberdayaan masyarakat, hingga kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan desa berketahanan iklim.

“Kegiatan ini masih berupa sharing pengalaman dan pendalaman. Teman-teman dari luar negeri belajar langsung bagaimana konsep desa berketahanan iklim diterapkan secara nyata di lapangan,” tambah Dudi.

Ke depan, DPMD Kabupaten Bandung Barat berkomitmen untuk terus mendorong kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak, termasuk kementerian dan pemangku kepentingan lainnya, guna menyempurnakan dan menjaga keberlanjutan program-program desa yang telah berjalan.

Dudi juga mengajak seluruh kepala desa di Bandung Barat untuk menjadikan Desa Kertawangi sebagai inspirasi.

“Mari bersama-sama kita wujudkan desa berketahanan iklim, desa yang peduli lingkungan, dan penyelenggaraan pemerintahan desa yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kunci keberhasilannya adalah kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat secara maksimal,” pungkasnya.

Kunjungan internasional ini menjadi bukti bahwa desa tidak lagi berada di pinggiran pembangunan, melainkan telah menjadi aktor penting dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan di tingkat global.

 

Jurnalis.    : An/Red

Editor.       : InfoNesia.me