Kab. Bandung Barat | InfoNesia.me // Anggota DPR RI Komisi IV, Dr. H. Dadang M. Naser, menegaskan pentingnya persatuan nasional sebagai fondasi utama dalam membangun Indonesia ke depan. Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Kabupaten Bandung Barat, sebagai bagian dari upaya meneguhkan kembali nilai-nilai kebangsaan di tengah dinamika politik dan sosial yang kian kompleks.
Dadang Naser menekankan bahwa perbedaan pandangan politik tidak boleh menjadi alasan untuk saling berhadap-hadapan.
Menurutnya, politik kebangsaan hari ini harus melahirkan sikap kenegarawanan, bukan pertikaian antara partai atau kelompok.

Ia mencontohkan, seorang kepala daerah maupun pejabat publik idealnya menempatkan kepentingan negara sebagai prioritas utama.
“Negarawan itu harus lebih besar dari kepentingan partai. Saya katakan, 80 persen negarawan, 20 persen baru urusan partai. Kalau ini dijalankan, Indonesia akan maju,” tegasnya.
Lebih jauh, Dadang menjelaskan bahwa ruh dari Empat Pilar MPR RI Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika pada hakikatnya adalah menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat gotong royong untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju.
Ia mengulas pengalaman negara lain, seperti Korea Selatan, yang pernah menjadi salah satu negara termiskin di dunia pada era 1970-an.

Melalui kepemimpinan yang kuat dan nilai kebangsaan yang kokoh, Korea mampu bertransformasi menjadi bangsa produktif. Bahkan, nilai-nilai Pancasila disebutnya memiliki kesamaan dengan filosofi dasar pembangunan di negara tersebut.
“Kita sebenarnya sudah punya nilai luhur seperti Pancasila dan sabilulungan. Tapi sayangnya, hari ini kita masih sering gontok-gontokan, apalagi diperparah oleh serangan di media sosial dan gadget,” ujarnya.
Dalam konteks lingkungan dan sumber daya alam, Dadang Naser menyoroti pentingnya peran negara dalam menguasai dan mengelola kekayaan alam, khususnya hutan.
Ia mengingatkan bahwa pengelolaan yang keliru dapat memicu bencana ekologis, seperti banjir dan longsor yang kini semakin sering terjadi.

Ia menyoroti praktik-praktik salah dalam tata guna lahan, termasuk penanaman tanaman yang tidak sesuai di wilayah pegunungan. Menurutnya, hal ini merupakan bentuk kebijakan yang keliru dan harus segera dibenahi, terutama di wilayah Bandung Barat dan Kabupaten Bandung.
“Hutan harus dijaga bersama. Kalau salah kelola, musibah datang terus. Banjir di mana-mana, itu bukan kebetulan, tapi akibat kebijakan yang tidak tepat,” katanya.
Dadang juga menegaskan kembali arah sistem ekonomi nasional yang menurutnya harus kembali pada amanat Pasal 33 UUD 1945.
Ia mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto yang ingin menegaskan kembali bahwa bumi, air, dan kekayaan alam harus dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dalam hal ini, koperasi disebutnya sebagai pilar ekonomi kerakyatan yang harus diperkuat secara nyata. Namun, ia mengingatkan bahwa koperasi tidak boleh hanya bersifat formalitas, melainkan harus diisi oleh pelaku usaha yang produktif dan berdaya saing.
“Di negara maju, koperasi diurus oleh orang-orang yang sudah punya usaha. Bukan sekadar jadi anggota dulu, tapi punya karya dan gawe dulu,” ujarnya.
Terkait persatuan dalam keberagaman, Dadang Naser menekankan pentingnya sikap saling menghormati antar umat beragama.
Ia menegaskan bahwa toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing tanpa saling mengganggu.
Ia mencontohkan sikap umat Kristiani yang menunjukkan kesederhanaan dan kepedulian sosial dalam perayaan hari besar keagamaan, termasuk penggunaan ornamen sederhana dan kepedulian terhadap korban bencana di berbagai daerah.
“Inilah makna Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya saling menghormati, saling menjaga, dan saling berbagi di saat saudara-saudara kita tertimpa musibah,” pungkasnya.
Melalui Sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini, Dadang Naser berharap nilai-nilai kebangsaan tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari desa hingga tingkat nasional.
Jurnalis. : An/Red
Editor. : InfONesia.me

Tinggalkan Balasan