Kab.Bandung –InfoNesia.me// Program Tempat Pengelolaan Sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan pengembangan di Desa Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, menunjukkan dampak nyata bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat lokal.program terkait ini tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi hasilkan juga energi,pakan dan pangan, paping blok, serta membuka peluang ekonomi bagi warga.

Sebuah alat inovasi pengelolaan sampah terpadu, kini hadir di Desa Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Alat yang dinamai Pesat (Pengelolaan Sampah Terpadu) tersebut, bukan hanya sekadar mesin pembakar sampah biasa pada umumnya.”Dirancang untuk menjadi solusi terhadap persoalan lingkungan, ekonomi, dan energi di desa cangkuang wetan. mampu mengolah sampah menjadi berbagai produk bernilai guna tinggi.

Kepala desa Cangkuang wetan Asep Kusmiadi S.IP, menjelaskan, keunggulan mesin ini terletak pada sistem insineratornya yang tidak memerlukan bahan bakar. “Kalau insineratornya, sudah banyak. Tapi kelebihan insinerator kami adalah pertama tanpa bahan bakar sama sekali. Hanya satu pentol korek api saja, langsung bisa nyala,” ujarnya saat ditemui awak media.pada hari sabtu 20/02/2026.

Lebih jauh, Kades Asep juga menjelaskan, energi panas dari insinerator tersebut dapat dimanfaatkan untuk memproduksi bahan bakar gas (LPG), bensin, bahkan solar.

“Kalau LPG kita atur suhunya dengan mengatur udara di bawah. Masuk mesin di atas 1000 derajat nanti akan jadi LPG. Turunkan 900 jadi bensin. Turun lagi jadi solar. Itu main di situ saja,” katanya.

Kades Asep pun menuturkan selain menghasilkan energi dari sampah nonorganik, alat ini dapat memanfaatkan sampah organik untuk menjadikan pakan melalui budidaya maggot. Nantinya, larva-larva maggot yang dibudidayakan dan berkembang biak tersebut bisa diolah menjadi pelet untuk pakan ikan serta untuk pakan unggas.

Sedangkan limbah yang dihasilkan dari budidaya maggot tersebut, nantinya akan digunakan sebagai pupuk organik yang kaya nutrisi untuk tanaman. “Makanya jargonnya kami adalah dari sampah untuk pakan, pangan, dan energi,” ucapnya.

Di sisi lain dalam praktiknya, hasil dari sektor pakan seperti ikan dan unggas dapat menjadi sumber pangan warga, menciptakan siklus ekonomi lokal yang mandiri.

Dengan kapasitas pengolahan mencapai 10 hingga 20 ton per hari sesudah di gibrig , Pesat dapat membuat sampah yang beredar di masyarakat berkurang secara drastis. “Sampah dari tetangga juga datang ke sini. Karena kalau diteruskan terus, enggak sampai 12 jam sudah habis, sudah dilibas habis,” tukasnya.

Pemerintah desa juga menyatakan bahwa program ini menjadi bagian penting dari upaya membangun desa mandiri dan berkelanjutan. “Kita berkomitmen untuk terus mendukung dan mengembangkan program TPS3R agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak warga,”pungkasnya.

Yans.