Kab.Bandung – InfoNesia.me// Kepala Desa Cangkuang Wetan Kecamatan Dayeuhkolot Kab.Bandung Asep Kusmiadi S.Pd., menerima kunjungan studi banding dari jajaran Pemerintah desa Sawangan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah terkait pada Pengelolaan sampah Mandiri. pada Sabtu 18/07/2026.

Kunjungan dari Desa Sawangan ini bertujuan untuk mempelajari strategi pengelolaan sampah mandiri yang sukses diterapkan di Desa Cangkuang Wetan, kecamatan dayeuhkolot, kabupaten bansung, guna direplikasi di Desa Sawangan yang saat ini wilayahnya belum mampu mengolahnya sendiri.

​Dalam pertemuan tersebut, Kades Cangkuang Wetan Asep Kusmiadi S.Pd. menegaskan bahwa persoalan sampah sudah menjadi isu nasional yang menjadi kewajiban seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat. Terlebih untuk wilayah Bandung Raya dengan kondisi TPST seperti Sarimukti maupun Bantar Gebang yang kerap mengalami buka -tutup dan memperketat pembuangan sampah per Agustus ini. Konsep pengolahan sampah di tingkat desa menjadi solusi mutlak karena daerah hilir belum memberikan solusi permanen.

​Dalam pertemuan tersebut kades Cangkuang Wetan Asep Kusmiadi menjelaskan pentingnya tingkat Desa untuk mencapai pengelolaan sampah yang baik dan setara dengan desa -desa percontohan dalam pengelolaan sampahnya.

Dirinya merumuskan 6 pilar penting yang harus disiapkan oleh desa yang ingin bertransformasi, seperti adanya kesiapan pimpinan (Kepala Desa). Serta komitmen kuat dari kepala desa sebagai pemegang otoritas tertinggi di wilayahnya.

Selain itu menurut kades Asep juga harus adanya arah kebijakan yang jelas dan berpihak pada kelestarian lingkungan juga sinergi dan kekompakan dari seluruh lembaga desa, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan (stakeholders),’, katanya.

Lebih lanjut disampaikan kades Asep , dalam persentasinya dihadapan peserta studi, bahwa pengalokasian dana desa yang memadai untuk menunjang sarana dan operasional pengelolaan sampah juga itu penting, dimana harus ada ​Peraturan Desa (Perdes) sebagai Payung hukum yang mengatur komitmen bersama agar aturan berjalan beriringan dan mengikat,” ungkap kades Asep saat di wawancara awak media usai acara.

​kades Asep pun menyampaikan bahwa perlunya menghadirkan inovasi yang menarik agar masyarakat tidak jenuh. “Inovasi ini harus bernilai ekonomi (mengandung insentif/uang), mengubah “sampah menjadi berkah”, seperti mengolah organik menjadi kompos/pupuk, serta anorganik menjadi produk inovatif (BBM, paving block), ” ujar kades.

​DIrinya mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat ditentukan oleh pemetaan tiga poin utama di lapangan seperti,mengetahui persis berapa ton sampah yang dihasilkan per hari (misal: 10 ton/hari).
” Sampah bisa dipilah dari sumbernya (organik & anorganik) untuk diolah menjadi berkah ekonomi, serta ​tantangan yang merupakan masalah terbesar adalah mengubah pola pikir (mindset) masyarakat yang belum peduli, serta keterbatasan sarana penunjang”, tegas Asep.

Adapun ​Strategi Penyelesaian menghadapi tantangan berat dalam mengubah SDM dan pola pikir masyarakat, Desa Cangkuang Wetan menerapkan dua pendekatan metode strategis:
​Pendekatan Social Engineering (Rekayasa Sosial): Pendekatan secara kontinu untuk memahamkan masyarakat agar peduli, paham pemilahan sampah, dan mengubah perilaku mereka sehari-hari.

Lanjut kata kades Asep, penggunaan teknologi tepat guna (seperti mesin pembakar/pengolah cepat) untuk mempercepat proses pemusnahan atau daur ulang sampah (dari hitungan jam menjadi hitungan menit) guna mengimbangi volume sampah harian yang tinggi.

“​Melalui kunjungan ini, diharapkan desa dari Magelang dapat membawa pulang proyeksi dan strategi matang ini untuk diimplementasikan secara mandiri di daerahnya,” pungkas kades Asep.

 

​Kab.Bandung –InfoNesia.me//  Kepala Desa Cangkuang Wetan Kecamatan Dayeuhkolot Kab.Bandung Asep Kusmiadi S.Pd., menerima kunjungan studi banding dari jajaran Pemerintah desa Sawangan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah terkait pada Pengelolaan sampah Mandiri. pada hari Sabtu, 18 Juli 2026.

Kunjungan dari Desa Sawangan ini bertujuan untuk mempelajari strategi pengelolaan sampah mandiri yang sukses diterapkan di Desa Cangkuang Wetan, kecamatan dayeuhkolot, kabupaten bansung, guna direplikasi di Desa Sawangan yang saat ini wilayahnya belum mampu mengolahnya sendiri.

​Dalam pertemuan tersebut, Kades Cangkuang Wetan Asep Kusmiadi S.Pd. menegaskan bahwa persoalan sampah sudah menjadi isu nasional yang menjadi kewajiban seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat. Terlebih untuk wilayah Bandung Raya dengan kondisi TPST seperti Sarimukti maupun Bantar Gebang yang kerap mengalami buka -tutup dan memperketat pembuangan sampah per Agustus ini. Konsep pengolahan sampah di tingkat desa menjadi solusi mutlak karena daerah hilir belum memberikan solusi permanen.

​Dalam pertemuan tersebut kades Cangkuang Wetan Asep Kusmiadi menjelaskan pentingnya tingkat Desa untuk mencapai pengelolaan sampah yang baik dan setara dengan desa -desa percontohan dalam pengelolaan sampahnya.

Dirinya merumuskan 6 pilar penting yang harus disiapkan oleh desa yang ingin bertransformasi, seperti adanya kesiapan pimpinan (Kepala Desa). Serta komitmen kuat dari kepala desa sebagai pemegang otoritas tertinggi di wilayahnya.

Selain itu menurut kades Asep juga harus adanya arah kebijakan yang jelas dan berpihak pada kelestarian lingkungan juga sinergi dan kekompakan dari seluruh lembaga desa, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan (stakeholders),’, katanya.

Lebih lanjut disampaikan kades Asep , dalam persentasinya dihadapan peserta studi, bahwa pengalokasian dana desa yang memadai untuk menunjang sarana dan operasional pengelolaan sampah juga itu penting, dimana harus ada ​Peraturan Desa (Perdes) sebagai Payung hukum yang mengatur komitmen bersama agar aturan berjalan beriringan dan mengikat,” ungkap kades Asep saat di wawancara awak media usai acara.

​kades Asep pun menyampaikan bahwa perlunya menghadirkan inovasi yang menarik agar masyarakat tidak jenuh. “Inovasi ini harus bernilai ekonomi (mengandung insentif/uang), mengubah “sampah menjadi berkah”, seperti mengolah organik menjadi kompos/pupuk, serta anorganik menjadi produk inovatif (BBM, paving block), ” ujar kades.

​DIrinya mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat ditentukan oleh pemetaan tiga poin utama di lapangan seperti,mengetahui persis berapa ton sampah yang dihasilkan per hari (misal: 10 ton/hari).
” Sampah bisa dipilah dari sumbernya (organik & anorganik) untuk diolah menjadi berkah ekonomi, serta ​tantangan yang merupakan masalah terbesar adalah mengubah pola pikir (mindset) masyarakat yang belum peduli, serta keterbatasan sarana penunjang”, tegas Asep.

Adapun ​Strategi Penyelesaian menghadapi tantangan berat dalam mengubah SDM dan pola pikir masyarakat, Desa Cangkuang Wetan menerapkan dua pendekatan metode strategis:
​Pendekatan Social Engineering (Rekayasa Sosial): Pendekatan secara kontinu untuk memahamkan masyarakat agar peduli, paham pemilahan sampah, dan mengubah perilaku mereka sehari-hari.

Lanjut kata kades Asep, penggunaan teknologi tepat guna (seperti mesin pembakar/pengolah cepat) untuk mempercepat proses pemusnahan atau daur ulang sampah (dari hitungan jam menjadi hitungan menit) guna mengimbangi volume sampah harian yang tinggi.

“​Melalui kunjungan ini, diharapkan desa dari Magelang dapat membawa pulang proyeksi dan strategi matang ini untuk diimplementasikan secara mandiri di daerahnya,” pungkas kades Asep.

 

 

Yans.