BANDUNG | InfoNesia.me // Ribuan masyarakat memadati kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Bandung, Minggu (9/8/2026), dalam gelaran Festival Perhutanan Sosial Jawa Barat dan Banten 2026.
Festival yang merupakan kolaborasi Balai Perhutanan Sosial (BPS) Bogor dan UPTD Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda ini tidak hanya menghadirkan pameran produk hasil hutan, tetapi juga menjadi ruang edukasi, promosi, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama dalam pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.
Mengusung tema “Harmoni Rasa Kopi Pilihan dan Hasil Hutan dari Jantung Perhutanan Sosial”, festival menghadirkan 30 stan yang menampilkan beragam produk unggulan dari kelompok tani perhutanan sosial di Jawa Barat dan Banten.

Di Jawa Barat terdapat 169 kelompok tani perhutanan sosial, sementara di Banten terdapat 46 kelompok. Melalui skema perhutanan sosial, masyarakat memperoleh akses legal untuk mengelola kawasan hutan selama 35 tahun dan dapat diperpanjang, dengan tetap mengedepankan prinsip kelestarian hutan.
Kepala BPS Bogor, Heru Setiawan, S.Hut., M.Sc., mengatakan festival tersebut bukan sekadar kegiatan pameran, tetapi merupakan bagian dari upaya konkret pemerintah dalam mendorong pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan petani perhutanan sosial.
“Bukan sekadar pameran, festival ini adalah wujud nyata upaya kami mendukung pemberdayaan petani perhutanan. Di balik produk-produk berkualitas ini, ada kisah perjuangan petani yang telah diberi akses legal 35 tahun untuk mengelola hutan dengan bijak,” ujar Heru.
Menurutnya, festival juga menjadi sarana memperkenalkan produk perhutanan sosial kepada masyarakat luas sekaligus mempertemukan kelompok tani dengan para pelaku usaha, khususnya pengusaha kopi dan gula aren.
“Kami ingin produk mereka semakin dikenal, membuka peluang kerja sama dengan para pelaku usaha, serta meningkatkan kesejahteraan petani melalui akses pasar dan peluang ekonomi yang lebih luas,” tambahnya.
Heru menegaskan, pengembangan ekonomi masyarakat melalui perhutanan sosial harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
“Melalui festival ini, kami ingin memberikan ruang bagi masyarakat untuk memamerkan produk-produk ekonomi kreatif yang dihasilkan dari pengelolaan hutan, seperti kerajinan tangan dan produk olahan makanan. Ini juga merupakan kesempatan bagi kami untuk menyosialisasikan pentingnya pengelolaan hutan yang berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Kepala UPTD Tahura Djuanda, Ir. H. Djuanda Tahura Lutfi Erizka (Upenk), menyampaikan semangat serupa. Menurutnya, keberadaan festival menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai fungsi hutan sekaligus peran petani dalam menjaga kelestarian kawasan.
“Sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian hutan, festival ini menjadi kesempatan emas untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perhutanan sosial. Melalui Pasar Lulun dan festival ini, kami ingin masyarakat lebih memahami peran petani hutan dalam menjaga kesejahteraan kita bersama,” ungkap Upenk.
Ia juga mengajak seluruh pengunjung untuk ikut menjaga kebersihan, ketertiban, serta mematuhi ketentuan yang berlaku selama berada di kawasan Tahura Djuanda.
“Kami mengajak seluruh pengunjung untuk turut serta menjaga aturan yang berlaku di Tahura Djuanda demi kelestarian alam kita,” tegasnya.
Jurnalis. : Andri
Editor. : InfoNesia.me

Tinggalkan Balasan