Kab.Bandung –InfoNesia.me// Bursa calon Ketua DPD APDESI Kabupaten Bandung akhirnya terjawab. Dua kandidat resmi ditetapkan dalam kontestasi pemilihan Ketua APDESI Kabupaten Bandung masa bakti 2026–2031 pada Musyawarah Cabang (Muscab) VI DPC APDESI Merah Putih, bertempat di Kolam Renang Tirta Raya, Desa Cikoneng, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung., pada Senin (2/11/2026).
Kedua kandidat tersebut adalah Ismawanto Somantri, S.H., S.Ip., Kepala Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, dengan nomor urut 1, serta H. Galih Hendrawan, S.Ip., M.M., sebagai kandidat nomor urut 2. Penetapan ini menjadi awal kompetisi demokrasi untuk menentukan arah kepemimpinan APDESI Kabupaten Bandung selama lima tahun mendatang.
Ismawanto Somantri mengatakan, keputusannya maju sebagai calon ketua bukan semata-mata untuk mengejar jabatan. Ia mengaku ingin mengawal demokrasi sekaligus menjembatani aspirasi para kepala desa yang menghendaki pemilihan ketua melalui mekanisme demokratis, bukan secara aklamasi.
Sementara itu, H. Galih Hendrawan menawarkan gagasan kepemimpinan melalui VISI MEGAH (Menangkan Galih Hendrawan) dengan tagline “Bersama Desa Menuju Masa Depan yang Lebih Baik.” Gagasan tersebut menjadi landasan untuk membangun APDESI yang lebih maju, solid, dan responsif terhadap kebutuhan pemerintahan desa.
Visi MEGAH dijabarkan melalui lima misi utama, yakni Maju, Edukatif, Gotong Royong, Aspiratif, dan Harmoni. Melalui konsep tersebut, Galih berharap APDESI menjadi organisasi yang mampu meningkatkan kapasitas kepala desa, memperkuat solidaritas, serta lebih berani menyuarakan hak dan kepentingan desa.
Menanggapi munculnya dua kandidat, Dedi Bram, Ketua APDESI Kabupaten Bandung periode 2021–2026, menyebut dinamika tersebut sebagai hal yang wajar dalam sebuah proses demokrasi organisasi. Menurutnya, penetapan dua kandidat merupakan bagian dari mekanisme untuk menentukan figur pemimpin yang akan membawa APDESI ke depan.
Dedi Bram berharap, perbedaan pandangan dan pilihan dalam kontestasi tersebut tidak menjadi pemicu perpecahan di antara para kepala desa. Sebaliknya, momentum Muscab VI harus menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, menjaga kekompakan, dan memperkuat soliditas organisasi demi kepentingan bersama.
Lebih lanjut, ia berharap kepemimpinan baru mampu membawa pemerintahan desa semakin maju dan mandiri. Terlebih, tantangan pembangunan semakin besar dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Karena itu, desa dituntut semakin inovatif, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Kabupaten Bandung.
Munculnya dua kandidat ini menjadi momentum penting bagi APDESI Kabupaten Bandung untuk menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi.
Kontestasi bukan sekadar perebutan kursi kepemimpinan, melainkan ruang adu gagasan, komitmen, dan visi dalam memperjuangkan kepentingan seluruh pemerintahan desa. Perbedaan pilihan hendaknya tidak menghilangkan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan organisasi.
Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih harus mampu membuktikan bahwa amanah kepemimpinan merupakan tanggung jawab besar, bukan sekadar kehormatan jabatan.
Dedi Bram berharap pemimpin baru mampu menyatukan seluruh elemen organisasi, mengawal aspirasi kepala desa, serta membawa pembangunan desa ke arah yang lebih baik.
“Siapa pun yang nanti terpilih, saya berharap mampu membawa pemerintahan desa ke arah yang lebih maju dan lebih baik. Terlebih kita sedang menghadapi tantangan besar menuju Indonesia Emas 2045. Kabupaten Bandung harus semakin maju, desa-desanya semakin mandiri, dan semangat BEDAS benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat,” tegas Dedi Bram.**

Tinggalkan Balasan