Kab.Bandung – InfoNesia.me// Tim Siaga Bencana RSUD Bedas Tegalluar Kabupaten Bandung melakukan langkah-langkah konkret serta edukasi bahaya abu vulkanik serta kesiapsiagaan pasca erupsi anak Gunung Krakatau dalam beberapa hari terakhir ini.
RSUD Bedas Tegalluar pun sudah siap siaga, apabila kemungkinannya terjadi hal-hal yang tidak diharapkan dampak abu vulkanik. Mulai dari menyiapkan dua unit mobil ambulance yang dilengkapi dengan peralatan kesehatan. Berikut kesiapsiagaan pelayanan kesehatan di Instalasi Gawat Darurat dan kesiapan oksigen yang dibutuhkan oleh pasien, selain tenaga kesehatannya.
Direktur RSUD Bedas Tegalluar dr. H. Dadan Permana didampingi Kepala Seksi Penunjang Opik Abdul Ropik saat ditemui pada hari Selasa (8/9/2026) mengatakan sehubungan dengan potensi aktivitas vulkanik di wilayah Jawa Barat dan Kabupaten Bandung, RSUD Bedas Tegalluar Kabupaten Bandung menyampaikan imbauan penting terkait pencegahan bahaya abu vulkanik.
Hal ini mengacu pada;
1. Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI tentang Kewaspadaan Dampak Abu Vulkanik Terhadap Kesehatan
2. Surat Edaran Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung
3. Surat Edaran Bupati Bandung tentang Langkah Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Dampak Bencana Abu Vulkanik di Wilayah Kabupaten Bandung.
dr. Dadan Permana mengungkapkan dampak abu vulkanik bagi kesehatan. “Partikel abu vulkanik yang halus dapat masuk ke saluran pernapasan dan menyebabkan, pertama ISPA & Asma: batuk, pilek, sesak napas, iritasi tenggorokan. Kedua, iritasi mata: mata merah, perih, berair. Ketiga, iritasi kulit: gatal dan ruam. Keempat, gangguan pencernaan: Jika air dan makanan terkontaminasi abu. Kelima, risiko kecelakaan: tap roboh, gangguan listrik, jalan licin,” tutur Direktur.
Ia menyebutkan kelompok rentan yang harus menjadi perhatian khusus, terkait sebaran abu vulkanik. Mulai dari anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang penyakit kronis.

Tak hanya itu, dr. Dadan juga menyampaikan langkah-langkah pencegahan paparan abu vulkanik sesuai arahan pemerintah.
“Mari terapkan 5M saat hujan abu”, sesuai SE Kemenkes, Dinkes, dan Bupati Bandung. Pertama, memakai masker. Wajib gunakan masker N95 / masker bedah dobel saat keluar rumah.
Kedua, menutup: tutup rapat pintu, jendela, ventilasi rumah dan fasilitas pelayanan.
Ketiga, melindungi: gunakan kacamata, topi, dan baju lengan panjang. Lindungi sumber air dan makanan. Keempat, membersihkan: bersihkan abu dengan cara disemprot air. Jangan disapu kering. Kelima, menunda aktivitas: tunda aktivitas luar ruangan yang tidak penting. Hindari berkendara saat hujan abu.
dr. Dadan mengatakan bahwa RSUD Bedas Tegalluar telah memiliki Team Siaga Penanganan Bencana dan Krisis Kesehatan RSBTL dan siaga dengan langkah:
1. Pelayanan 24 Jam: IGD siaga menerima pasien terdampak abu vulkanik.
2. Ketersediaan Logistik: Stock Masker N95, Oksigen, Obat-obatan ISPA, Tetes Mata, dan APD Petugas, dan lain-lain.
3. Pengamanan Fasilitas: Pengecekan atap, talang air, dan filter AC. Penyediaan air bersih cadangan
4. Edukasi: Penyuluhan kepada pasien, pengunjung, dan jejaring Puskesmas sekitar RSUD Bedas Tegalluar Kabupaten Bandung
5. Koordinasi Lintas Sektor: Siap berkoordinasi dengan BPBD, Dinkes Kab. Bandung, Kecamatan, Desa dan pihak terkait lainnya.
Lebih lanjut dr. Dadan mengatakan bahwa RSUD Bedas Tegalluar memberikan pelayanan kesehatan secara normal dengan protokol perlindungan dari abu vulkanik.
“Mari kita tingkatkan kewaspadaan dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Jangan panik dan jangan mudah percaya hoax.
Jika mengalami keluhan kesehatan akibat paparan abu, segera periksa ke Puskesmas terdekat atau IGD RSUD Bedas Tegalluar,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi sesuatu hal yang tidak diharapkan pasca paparan abu vulkanik anak Krakatau, kata dr. Dadan, RSUD Bedas Tegalluar sudah menyiapkan sarana dan prasarana untuk memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.
“Termasuk kegawatdaruratan, apabila ada warga Kabupaten Bandung khususnya yang ada di wilayah terdekat ke RSUD Bedas Tegalluar kita sudah mempersiapkan, disaat ada pasien yang datang ke rumah sakit ini imbas dari abu vulkanik tersebut,” tuturnya.
Termasuk, lanjutnya, fasilitas IGD (Instalasi Gawat Darurat) dan Poli Klinik sudah disiapkan. Hal itu untuk menindaklanjuti instruksi dan imbauan dari Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung yang disampaikan ke manajemen rumah sakit.
“Selain menyiapkan fasilitas di RSUD Bedas Tegalluar, juga kita melakukan survei. Jadi setiap pasien yang datang ke sini, kita periksa dan pantau apakah imbas dari abu vulkanik atau bukan. Kita juga berkoordinasi dengan wilayah sekitar, di antaranya dengan jajaran Forkopimcam. Kalau ada pasien imbas dari abu vulkanik harus segera dibawa ke rumah sakit. Insya Allah, di rumah sakit fasilitas juga sudah ada,” katanya.
dr. Dadan juga berusaha untuk mengoptimalkan fungsi Tim Siaga Bencana RSUD Bedas Tegalluar, apabila ada warga yang terkena imbas abu vulkanik bisa langsung dijemput untuk kemudian diantar ke rumah sakit terdekat. Salah satunya RSUD Bedas Tegalluar. Tentunya kerja Tim Siaga Bencana RSUD Bedas Tegalluar ini berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan.
“Dari segi fasilitas dan lainnya, kita dari RSUD Bedas Tegalluar sudah disiapkan,” katanya.
dr. Dadan kembali menegaskan bahwa abu vulkanik sangat membahayakan, karena berbeda dengan debu-debu biasanya. “Karena memiliki karakter yang sangat kecil, dan sangat membahayakan manakala terhisap melalui saluran pernapasan. Apabila masuk ke sistem pencernaan akan membahayakan sistem pernapasan. Bisa menimbulkan batuk dan pilek, gejala awalnya dan panas badan,” ujarnya.
Selain ke sistem pernapasan, katanya, juga ke sistem penglihatan apabila abu vulkanik masuk ke dalam mata. Itu akan menimbulkan iritasi, mata bisa menimbulkan merah. Kemudian apabila abu vulkanik bercampur dengan makanan, kemudian masuk ke dalam pencernaan, sehingga makanan itu sulit untuk dicerna atau diuraikan di dalam sistem pencernaan.
“Makanya, untuk meminimalisir hal itu kita harus menggunakan masker, kacamata saat beraktivitas di luar rumah. Selain itu meminimalisir aktivitas di luar ruangan atau gedung untuk menghindari paparan abu vulkanik,” ungkapnya.**
Yans.








