BANDUNG BARAT | INFONESIA.ME // Suasana di lingkungan SDN 2 Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mendadak menjadi perhatian setelah sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan hingga harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
Belasan siswa dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, mulai dari mual, muntah, pusing, diare hingga demam. Kondisi tersebut kemudian memicu dugaan adanya keracunan makanan, meski hingga kini penyebab pastinya masih belum dapat dipastikan.
Penanganan terhadap para siswa mulai dilakukan pada Jumat (11/9/2026) malam. Sebagian pasien mendapat perawatan di RS Indra Medical Center (IMC) Cimareme dan sebagian lainnya ditangani di RS Cibabat, Kota Cimahi.
Salah seorang orang tua siswa yang ditemui di RS IMC Cimareme menuturkan, keluhan kesehatan pada anaknya sebenarnya sudah muncul sejak Rabu (9/9/2026).
“Dari hari Rabu, anak saya sudah gejala mual, pusing. Bahkan setelah renang kegiatan sekolah, langsung kami bawa ke klinik terdekat,” ungkapnya.
Namun, orang tua tersebut mengaku belum berani menyimpulkan bahwa keluhan yang dialami anaknya berkaitan dengan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, pada saat yang hampir bersamaan anak-anak juga mengikuti kegiatan sekolah tambahan, termasuk aktivitas renang. Faktor kelelahan dan kondisi cuaca yang panas pun menjadi kemungkinan yang masih dipertimbangkan.
“Kami orang tua murid belum bisa memastikan penyebabnya apa, karena memang kejadian itu bersamaan dengan kegiatan sekolah tambahan. Apakah karena kecapean, kelelahan, ditambah cuacanya yang panas,” katanya.
Kabar mengenai sejumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan tersebut langsung mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB bergerak melakukan pemantauan dan memastikan para siswa mendapatkan penanganan medis.
Kepala Dinas Kesehatan KBB, dr. Lia Nurliana, bersama jajaran pelayanan kesehatan serta Kepala Puskesmas Padalarang turun langsung memantau kondisi pasien.
Laporan awal mengenai kejadian tersebut diterima sekitar pukul 19.00 WIB. Berdasarkan data sementara yang diterima Dinkes KBB, terdapat 14 orang yang masuk dalam laporan penanganan.
Dari jumlah tersebut, tujuh pasien dibawa ke RS IMC Cimareme. Sementara tiga pasien di antaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
“Laporan yang kami terima ada sejumlah siswa diduga keracunan dari makanan salah satu SPPG yang ada di daerah Cipeundeuy. Kami langsung menindaklanjuti dengan menugaskan kepala puskesmas dan kabid ke lokasi,” ujar dr. Lia.
Untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien, Dinkes KBB kemudian mengoptimalkan RS IMC sebagai posko sementara bagi pasien dari wilayah Cipeundeuy.
Pihak rumah sakit telah menyiapkan sembilan tempat tidur serta sejumlah ruangan yang dapat digunakan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien.
“Kami ingin mengoptimalkan Rumah Sakit IMC karena berada di wilayah Bandung Barat untuk dijadikan posko sementara bagi korban pasien yang ada di wilayah Cipeundeuy,” jelasnya.
Meski dugaan keracunan makanan mencuat, Dinkes KBB menegaskan belum dapat memastikan bahwa makanan dalam program MBG menjadi penyebab munculnya keluhan kesehatan tersebut.
Untuk mengungkap penyebabnya, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pengujian laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga dikonsumsi para siswa.
“Belum bisa memastikan apakah ini dari menu MBG. Kami fokus kepada pasien agar segera ditangani dan lekas pulih,” tegas dr. Lia.
Dalam penanganan dugaan keracunan makanan, pengambilan sampel makanan menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan penyebab. Sampel tersebut idealnya kemudian diperiksa di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas).
Namun, dalam kejadian kali ini petugas belum sempat memperoleh sampel makanan karena laporan diterima ketika para siswa sudah berada di rumah sakit dan menjalani penanganan di ruang IGD.
“Kalau itu keracunan, idealnya sampel makanan diambil untuk dilakukan uji laboratorium. Biasanya dalam kasus terdahulu kami langsung mengambil sampel makanan dan membawanya ke Labkesmas untuk dilakukan pemeriksaan,” katanya.
Berdasarkan informasi sementara dari Desa Cipeundeuy, sejumlah siswa diketahui mengonsumsi menu MBG pada Rabu dan Kamis, 9-10 September 2026.
Sehari setelahnya, Jumat (11/9/2026), sejumlah siswa mulai mengalami keluhan kesehatan dan kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan.
Meski terdapat rentang waktu tersebut, Dinkes KBB masih melakukan penelusuran untuk memastikan apakah keluhan yang dialami para siswa memang memiliki hubungan dengan makanan yang dikonsumsi atau disebabkan faktor lainnya.
Saat ini, keselamatan dan kondisi kesehatan para siswa menjadi prioritas. Petugas medis terus memastikan kondisi pasien stabil sekaligus mengantisipasi kemungkinan munculnya pasien baru.
“Kami fokus menyelamatkan pasien agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Intinya kami melakukan pertolongan pertama dan sudah berkoordinasi dengan pihak RS IMC untuk mengoptimalkan penanganan pasien,” ujar dr. Lia.
Mengenai biaya pengobatan, Dinkes KBB menyampaikan bahwa penanganan pasien yang diduga berkaitan dengan program MBG akan dikoordinasikan dengan Badan Gizi Nasional (BGN) pusat.
“Seluruh biaya pasien yang diduga keracunan MBG akan diklaim oleh BGN pusat. Nanti kami akan komunikasi lagi dengan BGN,” katanya.
Sementara itu, Humas RS IMC Bob Sopyan memastikan pihak rumah sakit siap mendukung penuh penanganan para siswa.
Sebanyak sembilan tempat tidur telah disiapkan, ditambah beberapa ruangan yang belum digunakan untuk mendukung fungsi posko sementara sesuai arahan Dinkes KBB.
“Kaitan rumah sakit IMC akan dijadikan posko, pihak manajemen membuka ruang untuk penanggulangan pasien yang diduga terkena keracunan. Kami sudah menyiapkan sembilan bed dan beberapa ruangan yang tidak terpakai untuk dijadikan posko sesuai arahan Dinkes KBB,” kata Bob.
Dari sisi ketersediaan obat-obatan, Bob memastikan stok masih dalam kondisi aman. Namun, apabila jumlah pasien mengalami peningkatan, pihak rumah sakit siap berkoordinasi dengan Dinkes KBB untuk mendapatkan tambahan obat maupun kebutuhan medis lainnya.
“Kalau untuk obat-obatan saat ini cukup. Bilamana terjadi lonjakan, kami akan berkoordinasi dengan Dinkes KBB terkait penambahan obat-obatan. Untuk saat ini aman,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa SDN 2 Cipeundeuy masih dalam proses penelusuran. Dugaan keterkaitan dengan makanan program MBG pun belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil pemeriksaan serta investigasi lebih lanjut.
Yang jelas, perhatian kini tertuju pada kondisi para siswa dan upaya pemerintah memastikan kejadian serupa tidak meluas.
Jurnalis. : An/Red
Editor. : InfoNesia.me

Tinggalkan Balasan