Bandung Barat| InfoNesia.me // Pemerintah Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program nasional ketahanan pangan.
Pada tahun anggaran 2025, Desa Mekarsari memfokuskan kegiatan tematik ketahanan pangan pada dua sektor utama, yakni penanaman jagung serta pengolahan hasil pertanian, khususnya jagung dan beras.

Kepala Desa Mekarsari Krisno Hadi menjelaskan, jagung dipilih sebagai komoditas utama karena dinilai memiliki potensi pasar yang besar sekaligus mudah dibudidayakan.
Namun demikian, keterbatasan lahan menjadi tantangan tersendiri, mengingat Desa Mekarsari tidak memiliki hamparan sawah luas seperti desa-desa lain di wilayah Kecamatan Ngamprah.
Sebagai solusi, pemerintah desa berinisiatif memanfaatkan lahan milik Pemerintah Kabupaten Bandung Barat yang sebelumnya tidak terawat. Proses perizinan pun ditempuh secara resmi, mulai dari pengajuan kepada Bupati hingga Badan Keuangan Daerah (BKD) melalui bidang aset.

Meski proses administrasi berjalan cukup panjang dan akhirnya diketahui bahwa penggunaan aset daerah dikenakan biaya sewa tahunan, Pemdes Mekarsari tetap melanjutkan program tersebut.

“Bagaimanapun ini adalah program pemerintah terkait ketahanan pangan. Mau tidak mau, suka tidak suka, tetap harus dilaksanakan. Kendala pasti ada, tapi kami yakin dengan sinergi antarinstansi, semua bisa dijalankan,” ujar Kepala Desa Mekarsari.
Saat ini, lahan seluas sekitar 1 hingga 1,5 hektare telah dimanfaatkan untuk penanaman jagung. Proses tanam bahkan telah dilaksanakan dan disaksikan langsung oleh jajaran Polsek Padalarang, yang turut berperan sebagai pengawas pelaksanaan program ketahanan pangan di tingkat desa.
Pengelolaan program ketahanan pangan tersebut sepenuhnya dipercayakan kepada BUMDes Mekarsari. Sebelumnya, BUMDes telah mengelola tiga unit usaha, yakni pengelolaan sampah, air bersih, dan perdagangan. Kini, sektor ketahanan pangan resmi menjadi unit usaha keempat.
Hasil dari pengelolaan ini nantinya akan menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) melalui mekanisme retribusi usaha BUMDes. Pemdes Mekarsari juga merancang pengembangan hilirisasi, mulai dari produksi jagung hingga penggilingan padi menjadi beras.
Dengan jumlah sekitar 4.147 kepala keluarga, potensi pasar lokal dinilai sangat besar. Jika setiap keluarga mengonsumsi rata-rata dua kilogram beras per hari, maka kebutuhan bisa mencapai sekitar 8 ton per hari, sebuah peluang ekonomi yang ingin dimaksimalkan oleh desa.

Untuk mendukung hal tersebut, Pemdes telah menyiapkan pengadaan mesin penggilingan padi yang rencananya akan ditempatkan di wilayah Babakan Garut. Saat ini, proses renovasi lokasi dan instalasi mesin masih berjalan, ditargetkan rampung pada Maret 2025.
Kendati sempat terkendala akibat perubahan rencana penggunaan lahan Pemda yang akan dijadikan kantor, Pemdes Mekarsari tidak patah arang. Alternatif pun diambil dengan menyewa lahan milik warga agar program tetap berjalan sesuai jadwal.
Langkah Desa Mekarsari ini menjadi contoh nyata bagaimana desa mampu beradaptasi di tengah keterbatasan, sekaligus memperlihatkan semangat gotong royong dalam membangun kemandirian pangan berbasis potensi lokal.
Jurnalis. : An/Red
Editor. : InfoNesia.me






