Bandung Barat | INFONESIA.ME // Mantan Wakil Ketua I KONI Kabupaten Bandung Barat sekaligus pengurus FORKI Jawa Barat, Yacob Anwar Lewi, menyampaikan pandangan kritis sekaligus harapannya terhadap kepemimpinan baru KONI Kabupaten Bandung Barat dalam menghadapi tantangan besar menjelang ajang Porprov Jawa Barat.
Menurut Yacob, sosok Tobias sebagai Ketua KONI Bandung Barat diyakini memiliki kemampuan dalam memimpin organisasi olahraga. Namun, kemampuan manajerial saja tidak cukup untuk mengangkat kembali prestasi olahraga daerah yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan cukup signifikan.
“Kalau masalah kemampuan saya kira beliau mampu. Tetapi yang harus diingat, membina atlet itu bukan pekerjaan instan. Ini bukan sekadar soal mengganti kepengurusan atau menambah anggaran, melainkan bagaimana membangun kembali sistem pembinaan yang berkelanjutan,” ujar Yacob.
Ia mengingatkan bahwa Kabupaten Bandung Barat pernah menjadi salah satu kekuatan olahraga di Jawa Barat dengan menempati posisi empat besar hingga lima besar pada ajang Porprov. Namun pada pelaksanaan terakhir, prestasi tersebut mengalami kemunduran hingga terlempar ke peringkat delapan.
Penurunan prestasi tersebut, menurutnya, harus menjadi alarm serius bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga di Bandung Barat.
Sebab membangun atlet berprestasi memerlukan waktu panjang, pembinaan mental yang kuat, latihan fisik yang konsisten, serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai.
“Jangan berpikir prestasi bisa dibangun secara mendadak. Atlet itu membutuhkan proses bertahun-tahun. Mental, fisik, teknik, semuanya harus dibentuk melalui pembinaan yang serius dan konsisten,” tegasnya.
Yacob menilai tantangan terbesar KONI Bandung Barat saat ini bukan hanya menyiapkan atlet menghadapi Porprov, tetapi juga mempertahankan aset olahraga daerah yang selama ini banyak berpindah ke daerah lain akibat minimnya perhatian dan dukungan.
Ia menyebut ada dua pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan oleh kepengurusan KONI saat ini. Pertama, memastikan atlet-atlet potensial yang masih berada di Bandung Barat tidak berpindah ke daerah lain.
Kedua, mengupayakan agar atlet-atlet berprestasi yang sebelumnya meninggalkan Bandung Barat dapat kembali membela daerah asalnya.
“Ini yang harus menjadi prioritas. Atlet-atlet yang dulu pergi karena merasa kurang diperhatikan harus diajak kembali. Banyak yang sekarang berprestasi di daerah lain. Kalau bisa ditarik kembali ke Bandung Barat, tentu akan menjadi kekuatan besar untuk mendongkrak prestasi daerah,” katanya.
Menurutnya, sejumlah atlet potensial yang kini memperkuat daerah lain seperti Bogor maupun Sukabumi sejatinya merupakan aset olahraga Bandung Barat yang perlu dirangkul kembali.
Yacob juga menyoroti persoalan anggaran pembinaan olahraga yang menurutnya masih jauh dari kebutuhan riil di lapangan.
Ia menegaskan bahwa olahraga prestasi membutuhkan dukungan dana yang memadai, bahkan idealnya di atas Rp10 miliar apabila ingin bersaing secara serius dengan daerah lain.
Pasalnya, banyak cabang olahraga yang membutuhkan peralatan latihan dengan biaya tinggi. Mulai dari cabang bela diri yang memerlukan matras, body protector, hand protector, hingga cabang menembak, dayung, dan cabang olahraga lainnya yang membutuhkan sarana latihan khusus dengan harga yang tidak murah.
“Bagaimana atlet mau berprestasi kalau alat latihan tidak tersedia atau sudah rusak? Jangan hanya menuntut medali, tetapi fasilitas latihan tidak dipenuhi. Prestasi itu lahir dari dukungan yang nyata,” ujarnya dengan nada kritis.
Ia menambahkan, waktu menuju Porprov saat ini sudah sangat terbatas. Karena itu, seluruh cabang olahraga harus meningkatkan intensitas latihan secara signifikan. Jika sebelumnya latihan dilakukan beberapa kali dalam sepekan, maka saat ini harus ditingkatkan menjadi latihan yang lebih intensif dan terukur.
“Pembinaan tidak boleh setengah-setengah. Kalau ingin mengejar ketertinggalan, latihan harus lebih disiplin, lebih sering, dan lebih terprogram. Olahraga prestasi itu tidak mengenal jalan pintas,” katanya.
Meski mengaku masih memiliki rasa pesimis melihat kondisi saat ini, Yacob tetap berharap kepemimpinan Tobias mampu menjawab berbagai tantangan tersebut.
Ia berharap Ketua KONI yang baru dapat membuktikan diri dengan mengembalikan atlet-atlet potensial yang pernah meninggalkan Bandung Barat serta membangun kembali sistem pembinaan yang kuat.
“Saya terus terang masih pesimis jika kondisi berjalan seperti sekarang. Target kembali ke lima besar tentu tidak mudah. Tetapi saya berharap prediksi saya salah. Saya ingin Bandung Barat bangkit dan kembali berjaya seperti dulu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kemajuan olahraga merupakan cerminan kredibilitas dan kemajuan sebuah daerah. Daerah yang mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi biasanya memiliki sistem pembangunan sumber daya manusia yang baik.
Karena itu, Yacob mengingatkan bahwa Musorkab dan pergantian kepemimpinan KONI jangan hanya menjadi seremoni organisasi semata. Momentum tersebut harus menjadi titik balik untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola pembinaan olahraga yang selama ini berjalan.
“Jangan sampai KONI hanya sibuk bicara target medali, tetapi lupa menjaga atletnya sendiri. Kehilangan atlet ke daerah lain adalah bukti bahwa ada yang salah dalam pembinaan. Sekarang saatnya membuktikan, apakah kepemimpinan baru mampu mengembalikan marwah olahraga Bandung Barat atau justru kembali mengulang kegagalan yang sama,” pungkasnya.
Jurnalis. : An/Red
Editor. : InfoNesia.me

Tinggalkan Balasan