BANDUNG | InfoNesia.me // Pemerintah Kota Bandung kembali menegaskan krusialnya sinergi strategis dengan dunia usaha dalam mengatasi masalah pengelolaan lingkungan hidup, khususnya penanganan sampah perkotaan.
Saat ini, volume timbunaan sampah di Kota Bandung tercatat telah mencapai angka yang signifikan, yakni berkisar antara 1.500 hingga 1.600 ton per hari.
Pernyataan tersebut disampaikan Sekertaris Dinas LH Kota Bandung, Dadang Setiawan S.IP.,MSi, dalam ajang Sustainability Leadership Bandung 2024 yang berlangsung di Pendopo walikota Bandung, Selasa (29/9/2026).
Dalam forum tersebut, Sekdis DLH Pemkot Bandung, Dadang Setiawan menyoroti tantangan pengelolaan lingkungan yang semakin kompleks serta peran vital program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) sebagai instrumen pendorong transformasi bisnis berkelanjutan.

Dirinya mendorong terkait transformasi berkelanjutan

berdasarkan data nasional periode penilaian terbaru (2024–2025), tercatat sebanyak 4.476 perusahaan di seluruh Indonesia mengikuti evaluasi PROPER. Namun, hasil evaluasi menunjukkan bahwa tantangan integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam praktik bisnis masih sangat besar.
“Dari total peserta tersebut, baru 282 perusahaan yang berhasil menembus kategori Beyond Compliance (melebihi ketaatan yang dipersyaratkan), ujarnya.
Dalam kesempatanya Dadang merinci keberhasilan tersebut mencakup 39 perusahaan yang berhasil mengamankan peringkat tertinggi Emas, serta 243 perusahaan yang meraih peringkat Hijau.
Rangkuman Data PROPER Nasional (2024–2025):
Total Peserta Evaluasi PROPER: 4.476 Perusahaan
Kategori Beyond Compliance: 282 Perusahaan
Predikat Emas: 39 Perusahaan
Predikat Hijau: 243 Perusahaan
Meskipun capaian ini menunjukkan adanya tren kemajuan positif, menurut Dadang, angka tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa jalan menuju bisnis yang benar-benar berkelanjutan masih membutuhkan kerja keras, inovasi, serta kolaborasi lintas sektor yang jauh lebih progresif, katanya.
Lebih lanjut Dadang juga menegaskan, bahwa PROPER hendaknya tidak dipandang sebatas ajang formalitas administratif atau kompetisi meraih peringkat warna semata. Lebih dari itu, PROPER adalah instrumen strategis untuk membangun budaya kepatuhan hukum, transparansi operasional, efisiensi pemanfaatan sumber daya, serta implementasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“PROPER bukan sekadar penilaian administratif atau pemberian peringkat warna, tetapi merupakan instrumen penting untuk membangun kepatuhan, transparansi, efisiensi sumber daya, inovasi lingkungan, dan tanggung jawab sosial perusahaan.” Tegasnya.
Sekertaris DLH Pemkot Bandung menggarisbawahi bahwa penanganan sampah harian sebesar 1.500–1.600 ton tidak mungkin dapat diselesaikan secara optimal tanpa keterlibatan aktif dari para pelaku usaha dan industri. Pendekatan pengurangan sampah dari sumbernya, penerapan ekonomi sirkular, serta inovasi tata kelola limbah mandiri oleh pelaku usaha menjadi kebutuhan mendesak.
Dengan adanya forum kepemimpinan keberlanjutan ini, diharapkan para pemimpin industri di Bandung dan sekitarnya dapat makin memperkuat komitmen lingkungan mereka guna mendukung ketahanan lingkungan perkotaan secara jangka panjang
Jurnalis. : Andri
Editor. : InfoNesia.me








