Kab.Bandung – Infonesia.me// Ruas Jalan Raya Dayeuhkolot kembali menuai sorotan. Setiap hujan turun, jalan vital penghubung wilayah selatan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung ini berubah menjadi

“lautan” air, memicu keluhan keras dari warga yang menuntut penanganan serius dari pemerintah.

Genangan air yang terjadi dalam sepekan terakhir bahkan mencapai ketinggian 50 hingga 70 sentimeter di sejumlah titik.

Kondisi tersebut membuat arus lalu lintas tersendat parah. Pengendara roda dua harus ekstra hati-hati, sementara kendaraan kecil kerap terpaksa berhenti atau memutar arah mencari jalur alternatif.

Tak hanya pengguna jalan, dampak juga dirasakan pedagang di sepanjang ruas tersebut. Aktivitas ekonomi terganggu akibat genangan yang merendam area usaha dan mengurangi jumlah pembeli.

“Setiap hujan, jalan ini seperti lautan. Air sering masuk ke rumah dan warung kami. Ini bukan pertama kali dikeluhkan, tapi belum ada solusi nyata,” ujar Siti Aminah (45), pedagang setempat, pada Selasa (31/03/2026).

Masalah tak berhenti pada genangan. Kerusakan jalan yang semakin parah akibat sering terendam turut meningkatkan risiko kecelakaan.

Lubang-lubang jalan kerap tak terlihat karena tertutup air, menjadi ancaman serius bagi pengendara.

Warga menilai kondisi ini tidak bisa lagi ditangani secara tambal sulam. Mereka mendesak Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat untuk segera turun tangan dengan langkah konkret dan terukur.

Sejumlah komunitas masyarakat bahkan telah mengumpulkan dokumentasi serta data lapangan sebagai bukti urgensi penanganan.

Mereka menekankan perlunya evaluasi menyeluruh, khususnya pada sistem drainase yang dinilai tidak berfungsi optimal, serta peningkatan kualitas struktur jalan agar tahan terhadap genangan.

Sebagai salah satu jalur strategis yang menghubungkan berbagai kecamatan, warga menegaskan bahwa keterlambatan penanganan akan berdampak luas terhadap mobilitas, distribusi barang, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait. Namun tekanan publik terus menguat, menuntut kehadiran negara dalam menyelesaikan persoalan infrastruktur yang telah berlangsung bertahun-tahun ini.

(Yans)