BANDUNG | INFONESIA.ME // Lima dekade perjalanan PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) memasuki babak baru. Perusahaan industri pesawat terbang nasional itu menegaskan komitmennya untuk memperkuat konektivitas udara Indonesia sekaligus membangun ekosistem dirgantara yang semakin mandiri, kompetitif, dan terintegrasi.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Simposium Nasional HUT ke-50 PTDI yang digelar di Hanggar Final Assembly Line (FAL) N219 PTDI, Bandung, Rabu (26/8/2026).
Mengusung tema “Memperkuat Konektivitas Udara untuk Pemerataan, Pertumbuhan Ekonomi, dan Kemandirian Industri Penerbangan Indonesia”, simposium menjadi forum strategis untuk membahas masa depan penerbangan perintis sekaligus penguatan industri dirgantara nasional.
Direktur Utama PTDI mengatakan, sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan konektivitas udara yang mampu menjangkau berbagai wilayah dengan kondisi geografis dan infrastruktur yang beragam.
“Indonesia adalah negara kepulauan. Konektivitas bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar pembangunan,” ujarnya.


Menurutnya, kebutuhan terhadap pesawat yang mampu beroperasi di bandara dengan landasan pendek masih sangat besar. Pesawat tersebut tidak hanya dibutuhkan untuk mengangkut penumpang, tetapi juga mendukung distribusi logistik, pelayanan kesehatan, serta membuka akses ekonomi bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
“PTDI siap bekerja dan siap memenuhi kepercayaan yang diberikan kepada kami. Mari kita bangun ekosistem dirgantara sebagai investasi strategis, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk kedaulatan teknologi, ketahanan nasional, dan masa depan generasi Indonesia,” katanya.
N219 dan Masa Depan Penerbangan Perintis
Simposium tersebut menghadirkan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard sebagai keynote speaker.
Hadir pula Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, perwakilan Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Sri Yanto, Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan, serta Wakil Komisaris Utama PTDI Bagus Puruhito.
Perwakilan pemerintah, legislatif, operator penerbangan, pelaku industri dirgantara nasional maupun global turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam paparannya, Febrian menilai tantangan industri pesawat nasional ke depan tidak hanya terletak pada kemampuan memproduksi pesawat, tetapi juga bagaimana kemampuan tersebut mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Ia mendorong penguatan rantai pasok lokal dengan melibatkan perusahaan nasional dalam berbagai aspek industri penerbangan, mulai dari komponen, material, avionik, perangkat lunak, riset, sertifikasi hingga Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).
“Pertanyaan untuk 50 tahun ke depan bagi PTDI adalah berapa banyak komponen yang dibuat di Indonesia, berapa banyak perusahaan nasional yang masuk dalam rantai pasok, dan berapa besar nilai tambah yang tinggal di dalam negeri,” ujarnya.
Febrian juga menekankan pentingnya menyatukan aspek permintaan, pasokan, dan pembiayaan dalam kebijakan nasional yang konsisten untuk mendukung keberlanjutan rute penerbangan perintis.
Menurutnya, penerbangan perintis tidak semestinya hanya dipandang sebagai layanan bersubsidi, tetapi juga sebagai investasi pembangunan ekonomi daerah. Dalam konteks tersebut, N219 dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu penghubung wilayah Indonesia.
Hanggar FAL N219 Diresmikan
Rangkaian HUT ke-50 PTDI turut ditandai dengan peresmian Hanggar Final Assembly Line (FAL) N219.
Peresmian dilakukan melalui penandatanganan prasasti oleh Febrian Alphyanto Ruddyard dan disaksikan sejumlah pejabat serta pimpinan PTDI.
Momentum tersebut dilanjutkan dengan penyerahan simbolis Part First Cutting N219 Komersial kepada Direktur Utama PT Mitra Aviasi Perkasa (PT MAP), Septo Adjie Sudiro.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya PTDI memperkuat kesiapan manufaktur sekaligus mendorong pengembangan N219 sebagai salah satu pilihan pesawat untuk mendukung konektivitas udara nasional.
Pengembangan N219 terutama diarahkan untuk menjawab kebutuhan wilayah dengan karakteristik geografis menantang, termasuk kawasan tertinggal, terluar, terpencil, dan perbatasan atau 3TP.
PTDI Tambah Mitra Strategis
Momentum HUT ke-50 juga dimanfaatkan PTDI untuk memperluas kerja sama dengan pemerintah daerah, kementerian, mitra industri, hingga Original Equipment Manufacturer (OEM) global.
Sejumlah kerja sama mencakup penguatan bisnis dan investasi, pengembangan kapabilitas industri, pemanfaatan produk PTDI untuk konektivitas udara dan pelayanan kesehatan, serta penguatan kerja sama industri dan komersial di tingkat global.
Salah satunya ditandai dengan penandatanganan kontrak jual beli tiga unit pesawat N219 antara PTDI dan PT BIBU Panji Sakti.
PTDI juga menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya mengenai kerja sama operasionalisasi pesawat N219 di wilayah tersebut. MoU ditandatangani bersama Bupati Mamberamo Raya Robby W. Rumansara.
Di sektor pengembangan bisnis dan industri, PTDI menjalin MoU dengan Ravelware serta PT Cipta Teknologi Mandiri terkait rencana pengembangan bisnis dan kapabilitas di bidang produksi dan aerostructure.
Kerja sama lainnya dilakukan dengan PT Invest Indo International, yang mencakup pengembangan bisnis, investasi, rantai pasok, dan operasional.
Sementara itu, melalui Industrial and Commercial Agreement (ICA) dengan Bell Textron Inc., PTDI memperkuat kerja sama produksi dan komersial.
Kolaborasi tersebut antara lain mencakup penjualan dan pemasaran helikopter, kustomisasi helikopter sesuai kebutuhan pelanggan, serta penguatan peran PTDI sebagai delivery center dan Bell Authorized Maintenance Center (AMC) untuk helikopter Bell 505 dan Bell 412.
Kerja sama tersebut juga membuka ruang bagi pengembangan kolaborasi industri lebih lanjut, termasuk pemenuhan dan pengakuan local content, countertrade, dan/atau offset di Indonesia.
Dorong Ekosistem Dirgantara Nasional
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doorstop dan diskusi panel yang menghadirkan Direktur Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Sokhib Al Rokhman, Deputi Bidang Infrastruktur Bappenas Abdul Malik Sadat Idris, Senator Papua David Harold Waromi, CEO Ravelware Randy Budi Wicaksono, serta Direktur Utama PT MAP Septo Adjie Sudiro.
Melalui Simposium Nasional HUT ke-50 tersebut, PTDI menegaskan bahwa penguatan industri dirgantara nasional membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah, operator penerbangan, industri, lembaga riset, dan mitra global dinilai perlu bergerak dalam sebuah ekosistem yang terintegrasi untuk membangun industri penerbangan Indonesia yang semakin kuat dan mandiri.
Penguatan konektivitas udara juga memiliki peran yang lebih luas, tidak hanya dalam mendukung mobilitas masyarakat, tetapi juga pemerataan pembangunan, pelayanan publik, distribusi logistik, pertumbuhan ekonomi daerah, serta membuka akses masyarakat di wilayah 3TP.
Dengan momentum 50 tahun perjalanan PTDI, pengembangan N219 dan penguatan ekosistem industri dirgantara diharapkan menjadi bagian penting dalam mewujudkan konektivitas udara nasional sekaligus memperkuat kemandirian teknologi dan industri penerbangan Indonesia.
Jurnalis. : Andri
Editor. : InfoNesia.me








