Bandung Barat | InfoNesia.me // Saung Maggot di Desa Bojongkoneng, Kabupaten Bandung Barat, menjadi lokasi kolaborasi internasional dalam bidang teknologi pangan melalui pelaksanaan Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama mahasiswa Singapore Overseas Immersion Program (OIP) Food Technology Degree Programme, Singapore Institute of Technology (SIT) yang berkolaborasi dengan Food Engineering Program, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, pada 3–4 Agustus 2026, diikuti sekitar 20 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen pembimbing, serta profesor dari kedua institusi.
Program ini menjadi wadah pertukaran ilmu mengenai pemanfaatan maggot sebagai solusi pengelolaan limbah organik sekaligus penguatan ketahanan pangan berkelanjutan.

Ketua Saung Maggot Bandung Barat, Asep Saepulloh, menyampaikan rasa syukurnya atas kepercayaan yang diberikan kepada Saung Maggot sebagai lokasi pembelajaran bagi mahasiswa dari Indonesia maupun Singapura.
“Alhamdulillah selama dua hari ini kami menerima kunjungan mahasiswa Teknik Pangan ITB dan mahasiswa dari SIT Singapura. Total sekitar 20 orang termasuk dosen pembimbing dan profesor yang memang memiliki keahlian di bidang ini. Kami banyak berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai bagaimana mengolah maggot dengan baik dan benar agar manfaatnya dapat diterapkan secara luas di masyarakat,” ujarnya.

Menurut Asep, diskusi yang berlangsung tidak hanya membahas aspek teknis budidaya maggot, tetapi juga peluang pengembangan bisnis berbasis ekonomi sirkular yang memiliki prospek besar di masa depan.
Ia berharap hasil pembelajaran tersebut mampu melahirkan inovasi baru yang dapat dikembangkan oleh para mahasiswa, baik sebagai penelitian maupun peluang usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Asep juga mengungkapkan bahwa kerja sama dengan ITB berpotensi terus berlanjut. Bahkan dalam waktu dekat dirinya diundang sebagai tim penilai dalam salah satu kegiatan di ITB yang membuka peluang kolaborasi lebih luas di bidang pertanian dan teknologi pangan.
“Indonesia adalah negara agraris sehingga persoalan pangan akan selalu menjadi perhatian utama. Karena itu kami berharap kolaborasi dengan Fakultas Teknik Pangan ITB dapat terus berkembang agar Saung Maggot tidak hanya semakin dikenal, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa,” katanya.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan berbagai materi mulai dari sejarah berdirinya Saung Maggot, proses budidaya, pengolahan hasil, hingga berbagai produk yang dihasilkan.
Selain pembelajaran di dalam lokasi budidaya, para mahasiswa juga diajak menikmati suasana pedesaan yang asri di sekitar kawasan persawahan Bojongkoneng.
Bagi mahasiswa asal Singapura, pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang paling berkesan selama mengikuti program OIP di Indonesia. Mereka turut mendokumentasikan kegiatan dan keindahan alam sekitar sebagai bagian dari pengalaman belajar lintas budaya.
Asep menjelaskan bahwa peserta dari SIT menjalani program selama dua pekan di Indonesia, namun hanya menghabiskan dua hari di Saung Maggot karena telah memiliki jadwal kegiatan di beberapa lokasi lain, termasuk di kawasan Lembang, sebelum kembali ke Singapura pada pekan yang sama.
Menutup kegiatan, Asep berharap ilmu yang diperoleh para mahasiswa dapat terus dikembangkan dan diaplikasikan di tengah masyarakat.
“Mudah-mudahan ilmu yang didapat selama dua hari ini bisa bermanfaat dan diterapkan lebih luas. Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa maggot bukan sesuatu yang menjijikkan atau sekadar bisnis biasa, tetapi memiliki potensi besar, bernilai ekonomi, mendukung pengelolaan lingkungan, bahkan mampu bersaing di tingkat dunia,” pungkasnya.
Jurnalis. : An/Red
Editor. : InfoNesia.me








