KAB BANDUNG – InfoNesia.me// Ada pemandangan ganjil di lokasi normalisasi dan pengerukan Sungai Cigede, di bawah Jembatan Pasigaran, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Jum’at (10/7/2026).
Di saat Relawan PRIMA, Pentahelix, TNI, dan Polri rela turun tangan mengeruk lumpur secara manual karena tak terjangkau alat berat, justru pihak yang paling diuntungkan dari normalisasi ini belum menampakkan kehadirannya.
Ketua Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot, Tri Rahmanto mempertanyakan sikap Ketua RW 9, RW 17, dan RW 5 yang sebelumnya sudah dihubungi untuk mengajak warga bergotong royong, namun hingga kegiatan selesai sama sekali tidak ada tanggapan nyata.
Tri mengaku kecewa karena permintaan bantuan kepada Ketua RW 9, RW 17, dan RW 5 agar menerjunkan beberapa warga untuk ikut bergotong royong membantu pengerukan sedimen, tidak mendapatkan respon positif.
“Padahal kegiatan normalisasi Sungai Cigede ini murni dilakukan untuk kepentingan masyarakat agar banjir dapat diminimalisir. Bukan kepentingan saya, bukan pula kepentingan Pentahelix. Terus terang kami kecewa,” ujar Tri Rahmanto kepada awak media di lokasi normalisasi, Jumat (10/7/2026).
Kegiatan normalisasi tersebut dilakukan untuk mengangkat sedimen yang telah lama mengendap agar aliran Sungai Cigede kembali lancar sehingga dapat mengurangi risiko banjir yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
“Sangat disayangkan ketika relawan, TNI, Polri, rela turun langsung mengangkat sedimen, tetapi dukungan dari pengurus RW dan masyarakat yang akan merasakan manfaat normalisasi ini malah tidak ada. Padahal hasil pekerjaan ini untuk seluruh warga, bukan untuk saya ataupun Pentahelix,” tambahnya.
Meski demikian, Pentahelix Dayeuhkolot memastikan kegiatan normalisasi Sungai Cigede akan terus dilanjutkan bersama Relawan PRIMA, unsur TNI, Polri, yang hadir hingga pengerukan sedimen di lokasi tersebut selesai.
Ia menegaskan pekerjaan penanganan banjir di Kecamatan Dayeuhkolot, bukan hanya tugas sekelompok orang atau pun tugas Pentahelix semata. Melainkan tanggung jawab seluruh warga yang selama ini mengeluh dan merasakan banjir.
Menurutnya, semangat gotong royong dan kolaborasi bersama seluruh pihak merupakan kunci keberhasilan penanganan banjir di Dayeuhkolot.
“Kalau semua pihak bergerak bersama dan berkolaborasi, pekerjaan seberat apa pun akan terasa ringan. Mari kita tingkatkan lagi semangat gotong royong karena manfaatnya akan kembali kepada masyarakat sendiri,” terangnya.
Pihaknya, lanjut dia, tidak meminta seluruh warga keluar dan ikut serta dalam kegiatan pengerukan. Cukup perwakilan beberapa orang dari masing-masing RW. Itu sudah cukup membantu meringankan beban.
“Kalau banjir terjadi dan merendam pemukiman warga, yang merasakan kan kita semua. Sangat ironi jika aparat dan relawan dari luar rela datang membantu, tapi warga sendiri justru bersikap pasif,” tegas Tri dengan nada kecewa.
Lokasi di bawah Jembatan Pasigaran merupakan titik krusial yang selama ini menjadi penyebab utama aliran sungai tersendat. Karena sempit dan sulit diakses, pengerukan sedimen bertahun-tahun ini hanya bisa dilakukan menggunakan tenaga manusia atau secara manual.
“Kalau sedimen ini tidak diangkat, hujan deras sedikit saja air akan meluap ke pemukiman. Kami bergerak cepat, tapi tanpa dukungan warga setempat, hasilnya tidak akan maksimal dan tidak awet,” tambahnya.
Meskipun kecewa dengan sikap sejumlah Ketua RW, Panitia Pentahelix Dayeuhkolot bersama tim dan relawan bertekad tidak akan berhenti di tengah jalan. Pentahelix berencana akan menyelesaikan kegiatan normalisasi Sungai Cigede di sekitar Jembatan Pasigaran.
Kegiatan normalisasi tersebut penting dilakukan untuk mengangkat sedimen yang telah lama mengendap agar aliran Sungai Cigede kembali lancar sehingga dapat mengurangi risiko banjir yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.(**)
Yans.

Tinggalkan Balasan